APPETIZER : "BUDAYA URBAN"  

21 Apr 2008

Budaya Urban lahir dari hilangnya ruang publik yang diperlukan untuk berkreasi dan melakukan pertunjukkan. Budaya itu mengumpulkan semua disiplin seni yang secara tak terelakkan terbentuk di jalan, sebagai tempat pertemuan dan penciptaan yang tiada habisnya. Bentuk-bentuk seni yang termasuk di dalamnya adalah seni jalanan, sirkus, gerakan tekhno, elektro dan juga budaya hip-hop.

Pada awalnya hip-hop adalah budaya daerah pinggiran kota, "Jiwa" dan gaya hidup yang tampak dalam beberapa ekspresi seni yang berbeda : rap dan hip-hop dalam seni musik, break-dance atau smurf dalam seni tari dan grafiti dalam seni rupa. Ekspresi yang ditampilkannya membawa pesan yang sama, yaitu kegelisahan daerah pinggiran kota.

Hip-hop muncul pada tahun 70-an di New York. Budaya itu lahir dari kalangan remaja di daerah kumuh yang merasa perlu berkreasi melalui berbagai disiplin artistik. Gerakan tersebut kemudian menjadi titik temu berbagai budaya dan ekspresi artistik. Di Perancis, hip-hop muncul sepuluh tahun kemudian melalui gerakan "Underground" dan penuh tuntutan yang terjadi di daerah pinggiran kota, yang memposisikan keberadaannya sebagai suatu budaya pinggiran dari percampuran.

Hip-hop memainkan peranan penting dalam bidang budaya, baik dalam bidang musik dengan musik rap yang banyak digemari, maupun dalam bidang seni rupa dengan kehadiran seniman muda terampil yang menggunakan cat spray, suatu praktik seni yang memerlukan tekhnik artistik yang tinggi. Dengan gerakan kaku yang terputus-putus, seperti robot atau akrobatik, break-dance atau b-boying lahir bersamaan dengan awal munculnya sejumlah pesta hip-hop dijalan-jalan atau di gudang-gudang yang tak terpakai. Beberapa tahun kemudian, dari urban tersebut berhasil dipentaskan di sejumlah ruang pertunjukkan dan festival : terjadi pertukaran antara koreografer dari kalangan hip-hop dan kalangan lain, yang sering kali lebih kontemporer dan memungkinkan mereka untuk memperluas cakrawala.

Sementara itu, link musik rap yang bersifat provokator, menuntut apa pun yang puitis. Seringkali blak-blakan dan dipandang terlalu brutal oleh masyarakat dan norma-norma yang ada. Meskipun demikian, para penulis musik itu sebenarnya ingin mentransformasi energi "negatif" menjadi kekuatan yang kreatif. Seperti halnya disiplin seni lain, grafiti berkembang di luar batas-batas dan sistem yang telah melembaga, di dorong oleh keinginan memberontak yang dinamis dan otodidak. lain halnya dengan musik rap yang melepaskan akarnya dan masuk dalam logika komersil, serta break-dance yang masuk ke dalam jalur profesional, ekspresi lukisan yang kurang mendapat perhatian media dan kurang memiliki nilai jual, masih sering dianggap sebagai perusak. Grafiti terutama sekali adalah kreasi yang sementara, sebagai saksi konteks sosial budaya dan politis yang terjadi pada suatu masa.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

DESSERT : "GENOTYPE KLASIK"  

Berawal dari perkembangan budaya Urban, sebenarnya merupakan sebuah Genotype dari sebuah perjalanan kebudayaan yang dipengaruhi oleh budaya klasik itu sendiri. Melihat kiblatnya dari perkembangan budaya-budaya di Eropa, bahwa budaya Urban terlahir karena adanya budaya Klasik di Eropa yang dipengaruhi oleh budaya Yunani Kuno dan Romawi Kuno. Dua kebudayaan inilah yang menjadi tonggak dasar terlahirnya sebuah budaya Urban.

Melihat dari kecenderungan perilaku masyarakat Urban yang individualistis. Terlihat dari menghilangnya sebuah ruang publik yang diperlukan untuk berkreasi dan melakukan pertunjukkan. Seolah memang terjadi karena adanya sebuah Genotype. Apa yang sebenarnya terjadi ?

Jika kita dapat kembali ke masa sebelum Masehi. Kecenderungan budaya Urban, terlihat seperti bayangan Yunani Kuno dan Romawi Kuno yang terlahir kembali. Dimana masyarakatnya memiliki kecenderungan sifat yang sama dengan masyarakat yang hidup di jaman Urban. Sebenarnya, apa yang berubah ? Memang tidak dapat kita sangka lagi, bahwa segala disiplin seni yang ada sampai sekarang ini, berawal dari Yunani Kuno dan Romawi Kuno. Jadi apa yang berubah ?.

Terkadang kita hanya selalu melihat dari satu sisi saja. Namun jika dilihat, dari satu sisi yang lain pasti memiliki perbedaan. Pada intinya, sebuah jaman itu tidaklah berubah. Melainkan budaya yang telah mengembangkan sebuah jaman itu sendiri. Apakah semua yang ada di dunia ini merupakan sebuah Genotype ?

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

ENTREE : "PLATO (428-348 SM)"  

Plato lahir sekitar 427 SM dari sekitar bangsawan Athena yang hidup ketika Yunani menjadi pusat kebudayaan selama empat abad. Ketika lahir, Plato diberi nama Aristokles. Tetapi ketika dewasa ia menjadi jago gulat terkenal dengan julukan "Plato" diatas ring. Keluarga Plato berperan aktif dalam kehidupan politik di kotannya, karena ayah Plato, Ariston adalah keturunan Kodrus, raja terakhir Athena. Sedangkan ibunya adalah keturunan Solon, peletak dasar hukum Athena yang terkenal.

Seperti anggota keluarga politik umumnya, ambisi Plato tadinya tertuju ke bidang lainnya. Ia berhasil memenangkan kejuaraan gulat dalam pekan Isthmian. Namun, Plato tak pernah berhasil lolos ke Olimpiade di Olympia. lalu ia juga mencoba menjadi penyair tragedi, tetapi ia gagal di berbagai sayembara. Karena kegagalan-kegagalan tersebut, Plato memutuskan untuk mempelajari filsafat dengan mendengarkan percakapan Sokrates. Sejak itu, selama sembilan tahun berikutnya Plato duduk di dekat sang guru dan menyerap gagasan-gagasannya. Metode Sokrates lewat "bertanya" membuat Plato menyadari kemampuan intelektualnya, serta menyadarkannya akan kemungkinan-kemungkinan masalah yang tak ia sadari.

Walaupun telah menemukan dunianya, Plato sempat tergoda untuk masuk ke dunia politik. Namun, keinginannya itu menjadi surut setelah mengamati perilaku para politisi Athena pada saat itu. Tokoh yang menjadi contoh dan teladan bagi Plato adalah Sokrates. Setelah Sokrates dihukum mati, Plato bersama teman-temannya pindah ke Megara untuk meneruskan cita-cita guru mereka. Ketika berumur 40 tahun, Plato pindah ke istana Dyonisios di kota Sirakus, Sisilia. Melalui raja itu Plato ingin mewujudkan cita-citanya tentang penguasa yang adil. Namun, ia gagal total malah hampir saja dijual sebagai budak di kota Aegina. Untung ia bertemu dengan teman yang kemudian menebusnya. Akhirnya Plato kembali ke Athena. Ketika temannya itu menolak untuk menerima kembali uang tebusan tersebut, Plato lalu menggunakan uang itu untuk mendirikan sekolahnya yang termasyhur, yakni AKADEMIA (387 SM).

Jadi, Universitas atau akademia Eropa pertama didirikan dengan uang penjualan seorang filsuf. Plato kembali ke Sisilia dua kali, namun ia selalu gagal mempengaruhi para penguasa di sana. Tahun-tahun terakhir hidupnya dipergunakan oleh Plato untuk mengajar di Akademia. Akademia Plato semakin berkembang di Athena, namun akhirnya ditutup oleh kaisar Justianus pada 529 M. dalam usahanya menghapuskan budaya Hellenistik dan menggantikannya dengan ajaran kristen. Para sejarawan, melihat peristiwa tragis ini sebagai tanda berakhirnya budaya Yunani-Romawi Kuno dan dimulainya zaman kegelapan, yakni Abad Pertengahan.

Selama menjalani kehidupan yang beragam, Plato rajin menulis. Hampir semua tulisannya ditulis dalam bentuk dialog. Di dalam dialog-dialog itu, Plato memakai Sokrates sebagai tokoh yang mengemukakan pendangan-pandangannya. Salah satu karya yang paling terkenal adalah Politeia ("Negara"), yang memuat ajaran Plato tentang negara.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

JUNK FOOD : "ABSOLUTISME"  

Berkaca dari karya Plato yang paling terkenal, Politeia ("Negara"). Dimana segala landasan dasar tentang apa itu negara yang diwujudkan oleh adanya sistem politik dan pemerintahan. Apa yang disebut dengan Demokrasi, memang sudah ada di zaman Sebelum Masehi. Dimana sistem di zaman Yunani-Romawi Kuno itu pun sudah ada rumusan mengenai apa itu negara.

Di zaman Sebelum Masehi pun, adanya sebuah absolutisme dalam sebuah ketatanegaraan sudah terjadi praktek kekuasaan negara yang tidak dibatasi oleh hukum. Penyalahgunaan kekuasaan dalam sebuah negara yang bertindak seluas-luasnya. Dimana kekuasaan negara ditangan satu perlengkapan negara yang di simbolkan melalui raja, pemimpin, presiden, ataupun perdana menteri.

Cita-cita mengenai apa itu yang dinamakan penguasa yang adil, sudah terpikir melalui gagasan-gagasan Yunani-Romawi Kuno. Jadi apakah yang dinamakan sebuah negara itu ? mungkin pertanyaan tersebut, merupakan sebuah pemikiran yang sangat panjang untuk membahasnya. Namun yang jelas, apa yang dinamakan dengan "negara di zaman Yunani-Romawi Kuno tak lain dan tak jauh berbeda dengan, apa yang dinamakan "negara" di zaman sekarang ini. Apakah yang disebut "negara" merupakan Genotype ?



Petikan Kutipan, Pembukaan Undang-undang Dasar di Indonesia.

PEMBUKAAN

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur . . . . . . . . . . dan seterusnya.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

BEEF STEAK : "ARISTOTELES (384 - 322 SM)"  

Aristoteles lahir pada 384 SM di Stagyra, pantai timur laut Thrakia, Yunani Utara. Ayahnya adalah seorang fisikawan yang bekerja pada Amyntas II, raja Makedonia. Pada umur 18 tahun, ia dikirim ke Athena untuk belajar di Akademia Plato. Ia belajar di sekolah ini selama 18 tahun, sampai kematian Plato pada tahun 374 SM.

Karena kecewa terhadap pendidikan di Akademia, Aristoteles meninggalkan Athena dan menghabiskan beberapa tahun berikutnya di Assos, sebuah kota kecil dimana temannya, Hermias menjadi raja disana. Ia diangkat menjadi penasihat Hermias dan akhirnya menikahi Pythias, keponakan sekaligus anak angkatnya. Pada masa ini, Aristoteles bekerja sama dengan murid-murid senior di Akademia dan menghasilkan beberapa tulisan awalnya. Namun, setelah Hermias ditangkap dan dihukum oleh Persia pada 345 SM, ia pergi ke Pella, ibukota Makedonia.

Pada 342 SM, ia diundang oleh Raja Philip dari Makedonia untuk menjadi guru pribadi anaknya, yakni Iskandar Agung Muda. Ia menerima undangan tersebut dan selama tiga tahun ia mencurahkan seluruh usahanya untuk mendidik dan melatih pangeran Iskandar Muda. Pada 335 SM, ketika raja Philip dibunuh dan setelah Iskandar Muda naik tahta, Aristoteles kembali ke Athena untuk mendirikan sekolah sendiri, Lykaion, yang juga disebut sekolah Peripatetik, yang sebenarnya adalah pusat penelitian ilmiah.

Pada 323 SM, sesudah kematian Iskandar Agung, ia harus melarikan diri dari Athena karena dituduh menyebarkan Atheisme. Akhirnya ia pergi ke kota Kalas, dan menetap disana sampai meninggal pada 322 SM.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

DISH SALAD : "ADJUSMENT"  

Melihat perjalanan dari seorang Aristoteles, sebuah perjalanan yang cukup menarik. Mungkin bagi kebanyakan orang, hal tersebut bisa dikatakan sebagai suatu hal yang biasa saja. Dimana sebuah pembelajaran, memang sudah seharusnya seperti itu. Mengingat ada pepatah yang mengatakan bahwa "Tuntutlah ilmu, sampai ke negeri Cina".

Dimana ada ilmu, disitulah tempat para pembelajar dan pengajar saling menempa pengetahuan yang dimilikinya. Namun terkadang selalu muncul pertanyaan, untuk apa menuntut ilmu ? Jika tidak seperti yang kita inginkan dan mendapatkan apa yang kita ingin wujudkan. Seperti halnya dengan Aristoteles, yang kecewa dengan pendidikannya selama di Akademia. Namun walaupun kecewa, Aristoteles dapat bertahan selama 18 tahun masa belajarnya di Akademia. Untuk ukuran belajar, 18 tahun mungkin sangatlah menyita waktu. Bukanlah waktu yang singkat untuk menuntut ilmu. Untuk ukuran Aristoteles, belajar dalam 18 tahun masih merasa kecewa. Apakah ini yang disebut dengan Adjusment ?

Mungkin pepatah "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina", mungkin jawaban dari rasa kecewanya Aristoteles. Dimana berpindah-pindah tempat untuk menuntut ilmu. Atau mungkin, Aristoteles merasa sudah cukup bekal untuk melanjutkan ilmunya untuk diterapkan dalam kehidupannya. Di dukung lagi, Aristoteles diangkat menjadi seorang penasehat raja. Dan sampai menghasilkan beberapa tulisan awalnya.

Bahkan dari beberapa tulisannya, mengantarkan Aristoteles menjadi seorang guru pribadi dari seorang pangeran yang pada akhirnya mengantarkannya menjadi seorang guru yang mendirikan sekolah sendiri. Hingga pada akhir hayatnya, yang hidup dalam sebuah pelarian.

Inikah yang disebut dengan proses pembelajaran ? Apakah ini hanya sebuah "Adjusment", sebuah penyesuaian diri, dimana suatu proses penyesuaian diri yang dilakukan manusia terhadap lingkungan sosial dan budaya di sekitarnya ?

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

MUTTON FRY SPECIAL : "PLOTINOS 205-207 M"  

Plotinos adalah seorang filsuf pada puncak zaman Yunani Kuno yang merangkum dan membuat semacam Sintesis dari pelbagai aliran filsafat pada masanya, termasuk aliran pemikiran "Filsafat Timur" (Persia dan India). Hal ini terjadi, karena dengan berkembangnya kebudayaan Hellenisme sampai ke Persia dan India, berarti membuka pintu bagi masuknya elemen-elemen non Yunani. Namun, karena inspirasi utama filsafat Plotinos adalah pemikiran Plato, maka filsafatnya disebut "Neo-Platonisme" atau "Platonisme Baru".

Neo-Platonisme, muncul di kota Alexandria, yang pada saat itu menjadi tempat bertemunya budaya Timur dan Barat. Disini terdapat berbagai pengaruh religi-religi dari Persia, Babylonia, sisa-sisa ritual Mesir Kuno, Komunitas Yahudi, Sekte-sekte Kristen, dan semuanya itu menjadi latar belakang budaya Hellenisme pada umumnya. Aliran Neo-Platonisme ini, sebenarnya didirikan oleh Ammonius de Saccas yang lahir dari keluarga Kristen, namun ia menghidupkan kembali filsafat Plato dan menjadi seorang Neo-Platonis. Muridnya yang paling terkenal adalah Plotinos (204-270 M), filsuf Neo-Platonisme terbesar dalam sejarah. Ia dilahirkan di Mesir, dan belajar di Alexandria dan menetap di sini sampai tahun 243 M.

Karena tertarik pada agama-agama dan mistik Timur, ia mengikuti Kaisar Gordian III dalam sebuah kampanye melawan Persia. Namun, proyek ini gagal. Kaisar Muda, tersebut tidak berpengalaman dan malah mati ditangan bawahannya. Lalu pada tahun 224 M, Plotinos melarikan diri dari mesopotamia yang menjadi tempat pembunuhan, dan menetap di Roma. Ia hidup dan mengajar di sini sampai akhir hayatnya. Karya-karyanya yang terbit adalah hasil editan muridnya, Porfirius. Inti pokok ajaran Plotinos, dapat ditemukan dalam karya "Enneads", sebuah buku berisi kumpulan karangan Plotinos yang diedit dan diterbitkan oleh muridnya, Porfirius (232-301 M).

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

Lemon fish furl : "finalisme"  

Seperti kebanyakan yang telah ada, sesuatu yang telah ada pasti menghasilkan sebuah hal yang baru. Ada awalan dan ada akhiran. Apakah ada sebuah awalan yang tak berujung pada sebuah akhiran ? Begitu pula, seorang Plotinos, yang hidup di tengah pangaruh perkembangan Neo-Platonisme. Dimana adanya pengaruh bertemunya religi-religi dari Persia, Babylonia, Sisa-sisa ritual Mesir Kuno, Komunitas Yahudi, Sekte-sekte Kristen, yang melahirkan sebuah budaya Hellenisme. Walaupun demikian, inspirasi utama dari budaya ini adalah pemikiran Plato.

Hal ini seolah, tergambar di negara Indonesia kita ini. Dimana sebuah proses perkembangan, kunci dasar negara kita yang dirumuskan semenjak Orde Lama, Orde Baru, hingga ke masa Reformasi. Seolah merupakan sebuah bayangan dari masa budaya Hellenisme. Apakah ini sebuah proses ? atau bisa dikatakan sebagai sebuah "Finalisme" atau sesuatu yang menentukan tujuan serta maksud dari gejala itu ? "Finalisme", tanpa sebuah faham.

Seolah tergambar bahwa Orde Lama, merupakan sebuah thesis yang diolah kembali melalui Orde Baru yang menjadi Anti Thesisnya. Dimana keduanya memiliki peranannya masing-masing, tapi masih saling berkaitan. Hingga terdobrak di masa Reformasi ini, yang seolah dimuntahkan kembali, menjadi sebuah sintesa dari Orde Lama dan Orde Baru. Namun, apakah Reformasi adalah sebuah Sintesa ? Sebuah masa, yang di format kembali, di formasi kembali ? ataukah, jangan-jangan malahan ingin menghapusnya ? Tidak ada ujung pangkalnya ? Inikah sebuah "Reformasi", ataukah sebuah Neo - Orde Baru ? Bukankah Sintesa merupakan sebuah pemikiran baru, yang dihasilkan dari pemikiran yang telah ada ? ataukah, apanya yang salah ? ataukah ini hanya bayangan masa lalu kita semua. Yang selalu dibayang-bayangi oleh bayangan masa lalu.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

Keindahan dan idea Plato  

Untuk memahami pikiran Plato tentang keindahan atau yang indah, kita haruslah memahami dulu pandangan Plato tentang realitas. Realitas bukanlah realitas inderawi. Karena, realitas inderawi hanyalah merupakan cerminan realitas yang sebenarnya, yang disebut Plato sebagai Idea. Idea itu bersifat rohani, kekal, dan tidak berubah. Misalnya, Idea tentang "segitiga", idea tentang "Kuda", dan idea tentang "manusia".

Dari ajaran tentang Idea ini, Plato merumuskan teorinya yang terkenal dengan Teori Dua Dunia. Dua dunia tersebut adalah "Dunia Idea" (dunia atas) dan "dunia sehari-hari" (dunia bawah). Menurut Plato, Dunia Bawah, merupakan tiruan dari Dunia Atas. Dunia Atas, digambarkan sebagai Dunia Idea, yaitu : dunia kebenaran Absolut, Sejati, dunia Roh, Pengetahuan Sejati (Episteme). Sedangkan Dunia Bawah, adalah dunia yang Relatif, Sehari-hari, Fana, Kebenaran Relatif, Tiruan, dan hanya Pendapat (Doxa). Pandangan ini dikemukakan Plato dalam salah satu dialognya yang terkenal, yakni "Philebus". Disini dinyatakan bahwa, yang indah dan sumber segala keindahan adalah yang paling sederhana. Yang dimaksud dengan "Sederhana" adalah bentuk dan ukuran yang tak dapat diberi batasan lebih lanjut, berdasarkan sesuatu yang "Lebih Sederhana Lagi". Yang "Indah", itu dilepaskan oleh Plato dari pengalaman Jasmani. Menurut pandangan ini, keindahan dalam pengertian hidup sehari-hari adalah Keindahan tingkat dua saja. Keindahan sesungguhnya ada di dunia Idea.

Bagaimana hubungan antara Dunia Atas dan Dunia Bawah ? Menurut Plato, antara Dunia Atas dan Dunia Bawah, terdapat hubungan timbal balik. Hubungan tersebut dapat dijelaskan dengan tiga kata kunci :
- Paradigma, artinya Dunia Atas menjadi contoh, Prototipe, Pola, bagi Dunia Bawah.
- Hadir Pada, artinya Dunia Atas itu, selalu hadir pada (Presence) Dunia Bawah.
- Partisipasi, artinya Dunia Bawah, itu mengambil bagian (berpartisipasi) di Dunia Atas.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

Paradigma Abstraksi  

Terkadang memang banyak, jika mengetahui mengenai sebuah hal tentang Abstrak. Niskala, Gaib, Tidak Jelas, Sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh Panca Indra. Di sekeliling kita, apakah itu sebuah Realitas ? Apakah itu, sebuah Abstraksi ? Berpikir secara abstrak tanpa bantuan, hal-hal yang nyata dengan mengambil instruksi satu problema. Nyata, atau Realitas ?

Apakah itu, sebuah Keindahan ? Segala hal, yang dianggap sebagai suatu Keindahan. Dari mana datangnya Keindahan itu ? Keindahan, biasanya hanya dapat dirasakan oleh Panca Inderawi. Apa yang dapat kita lihat, itulah Keindahan ? Dimanakah letak sebuah Keindahan ?

Atau, jangan-jangan kita hanya berpikir bahwa itu adalah sebuah realita dari sebuah keindahan ? Ataukah keindahan dari sebuah Realitas ? Inilah , "Abstraksi", sebuah instruksi suatu problema nyata, atau realitas yang tanpa sesuatu dan tidak dapat ditangkap oleh Panca Indera. Dimanakah Letak, dasar instruksi dalam tafsiran Keindahan ? Sebagai acuan dari sebuah Paradigma. Atau suatu gugusan sistim pemikiran, yang menjadi contoh atau teladan dari sebuah pemikiran, tentang Keindahan.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

Mimesis - Memeseos  

Pandangan Plato tentang karya seni dikenal sebagai teori "Mimesis" (tiruan). Teori ini mengemukakan bahwa segala yang ada di dunia ini merupakan tiruan (Mimesis) dari yang asli di dunia Idea. Selain itu, menurut Plato, karya seni adalah tiruan dari kenyataan yang ada di dunia ini (kecuali musik), jadi jauh dari kebenaran sejati. Itulah sebabnya kanapa ia menyebut karya seni sebagai "Tiruan Dari" (Mimesis - Memeseos). Karena karya seni menirukan sesuatu di dunia ini, yang sebenarnya sudah merupakan tiruan dari dunia Idea. Jadi, karya seni adalah "Tiruan dari tiruan", artinya tiruan dua tingkat (2 Levels Imitation). Itulah sebabnya, kenapa menurut Plato, seni tidak baik untuk dijadikan sebagai sumber pengetahuan. Bagi Plato, hanya filsafatlah yang pantas menjadi sumber Pengetahuan, Kebijakan, dan Moral.

Keberatan Plato terhadap seni, juga karena seni memberi pengaruh buruk bagi penonton dan masyarakat. Kenapa ? Karena, hakikat seni bersifat emosional. Misalnya, Plato menentang karya Sastra dan Drama. karena dalam drama, banyak terdapat adegan-adegan yang kurang baik dipertontonkan dan akan menjauhkan warga negara, dari tugasnya membangun negara. Baginya, puisi itu prosesnya irasional dan kurang kontrol terhadap akal sehingga akan memberi pengaruh bagi penonton.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

Sense, sensitif, sentimen dan sentimentil  

Mungkin keberatan, dengan apa yang telah ada di sekitar kita. Terkadang antara keinginan dan perasaan selalu bertolak ukur pada sebuah pertentangan.

"Sense", atau perasaan. Apakah yang menjadi sebuah masalah ? Terkadang perasaan yang lebih dominan, jika dibandingkan dengan akal sehat yang kita miliki. Apakah yang menjadi sebuah masalah ? "Sensitifkah" atau terlalu peka, rapuh hati, dan sangat perasa. Mungkin, secara tidak sadar kita telah menjadi seorang yang "Sentimen". Atau adanya sebuah reaksi emosional yang sifatnya tetap, terhadap suatu obyek kebendaan atau manusia.

Jangan-jangan, kita malahan sudah memasuki sebuah tingkatan yang lebih tinggi lagi. "Sentimentil", mungkin disinilah kita berada. Sebuah rasa, perasaan penuh haru, rawan, lembut hati, dan terlalu berlebih-lebihan.

Sudah tepatkah, pilihan dan dimana kita berada sekarang ?

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

Aristoteleisme  

Meskipun Aristoteles, pernah menjadi murid Plato di Akademia selama 20 tahun. Aristoteles, menolak ajaran Plato tentang Idea. Aristoteles, tidak mengakui adanya Idea-idea abadi. Apa yang dipahami Plato sebagai Idea, sebenarnya adalah bentuk abstrak yang tertanam dalam realitas indrawi sendiri. Nah, dari realitas indrawi konkret akal budi manusia mengabstraksikan paham-paham abstrak yang bersifat umum. Akal budi mengabstraksikan pengertian "manusia" atau "dunia" dari manusia atau dunia konkret yang kita lihat, dan masing-masing berbeda satu sama lainnya.

Menurut Aristoteles, ajaran Plato tentang Idea-idea merupakan kesalahan interpretasi terhadap kenyataan bahwa manusia dapat membentuk konsep-konsep universal, tentang hal-hal yang empiris untuk menjelaskan kemampuan ini tidak perlu menerima atau mengerti tentang Idea-idea abadi Plato. Aristoteles menjelaskan bahwa, manusia memiliki kemampuan akal budi untuk membuat abstraksi, yaitu mengangkat atau membentuk bentuk-bentuk universal dari realitas empiris individual. Pendekatan Aristoteles, adalah pendekatan empiris. Ia bertolak dari realitas nyata indrawi karenannya, ia sangat mementingkan penelitian di alam dan mendukung pengembangan ilmu-ilmu khusus.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

SatyaGraha  

Sebuah perjuangan untuk kebenaran. Apa yang pernah kita lakukan untuk diri kita, bahkan untuk diluar diri kita. Terkadang, apa yang ada di luar kita, selalu berlawanan dengan apa yang ada di dalam diri kita. Begitu pun sebaliknya, inikah sebuah perjuangan ? Adanya sebuah perjuangan, karena muncul dari sebuah perlawanan. Apakah yang menjadi kunci dari sebuah perjuangan ? Ataukah, hanya sekedar perasaan yang lebih dominan ? Sebuah pernyataan jiwa yang dihayati secara suka maupun tidak suka.

Max Scheler, membagi perasaan dalam 4 golongan :
1. Perasaan Penginderaan : rasa panas, dingin, sakit.
2. Perasaan Vital, yang dialami karena berhubungan dengan keadaan tubuh, misalnya : rasa lesu, rasa segar.
3. Perasaan Psikis, yang menyebabkan perubahan psikis, misalnya : rasa senang, rasa sedih.
4. Perasaan Pribadi, yang dialami secara pribadi, misalnya : perasaan diasingkan.

Dimanakah sebuah kebenaran, ataukah hanya sebuah perasaan ? Sebuah perasaan yang berjuang sendiri untuk mengungkap tabir kebenaran, kebenaran sebagai perjuangan di dalam diri kita dan di luar kita. Sudah mampukah, kita untuk berjuang untuk kebenaran ?

Kebenaran yang kita perjuangkan untuk diri kita dan di luar diri kita ?

Perjuangan untuk kebenaran diri kita dan di luar diri kita ?

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

Teoritis dan praktis  

Pembagian filsafat menjadi filsafat teoretis dan praktis, didasarkan pada ajaran Aristoteles tentang metode berpikir. Kata "Teoretis" berasal dari kata Yunani Theoria, yang berarti "Memandang", "Berkontemplasi". Theoria atau filsafat adalah ilmu yang memandang, mencoba memahami, dan merefleksikan asal-usul, keteraturan dan hukum, serta perkembangan dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan filsafat praktis, menyelidiki tindakan manusia. Jadi, filsafat praktis ini sebenarnya sama dengan etika dan filsafat politik. Filsafat politik memusatkan perhatiannya pada tatanan komunitas negara, sedangkan etika lebih mempertanyakan bagaimana kehidupan individual harus diwujudkan. Kedua ilmu ini tidak dapat dipisahkan dengan tajam. Karena, keduanya tidak mencari pengertian Teoretis, melainkan mau menjawab pertanyaan : Bagaimana manusia harus bertindak agar dapat mencapai tujuannya?

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

Dualisme vs Double Aspecttheory  

Sebuah perbandingan mungkin, penyatuan keterhubungan mungkin ? Ataukah sebuah cara pandang, atau sebuah tindakan dari apa yang dipandang. Mencoba memahami melalui sebuah refleksi terapan.

Sebuah pilihan, yang memang harus dipilih untuk mendapatkan sebuah tujuan utama dari sebuah pilihan. "Dualisme", suatu ajaran yang mengatakan adanya hubungan antara jiwa dan raga, keduanya ada hubungan timbal balik saling mempengaruhi. Dimana, sebuah pilihan pada hakekatnya adalah satu pilihan. Bukan sebuah pilihan, apabila tidak ada hakekat dari sebuah pilihan itu.

Satu adalah satu pilihan, dan satu pilihan adalah satu. Kedua kata kunci tersebut, adalah satu dan satu pilihan. Satu pilihan dan satu, sebuah kata kunci. "Double Aspecttheory", teori yang mengatakan bahwa jiwa dan raga saling berhubungan erat. Teori ini di kemukakan oleh B. Spinoza.

Dimanakah Pilihan dan Tujuan, yang Satu Itu ?

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

Khatarsis Plotinos / Pemurnian Diri  

Proses kembali atau Pemurnian Diri / Katharsis. Ada tiga tahapan yang bisa dilakukan untuk dapat kembali kepada "Yang Esa" (Remanasi), dan hanya dapat dilakukan oleh manusia. Dengan adanya Cinta (Eros), yang mendapatkan daya dorong menuju ke "Yang Esa".

Dimana Pemurnian Diri ini, bersumber pada teori "Trinitas" Plotinos. trinitas ini terdiri dari : "Yang Esa" (To Hen, The One), "Akal Budi" (Nous), dan "Jiwa" (Psyche). Pada dasarnya, seluruh sistem ini berpusat pada "Yang Esa", yang disebut sebagai "Yang Baik". Yang Baik dalam pandangan Plotinos adalah kenyataan atau realitas negatif, artinya "Yang Esa" itu tidak dapat dibicarakan, tidak dapat dipikirkan, dan tidak bisa diidentifikasikan, karena ia bukan sesuatu atau bukan roh. "Yang Esa" adalah "Yang Esa".

Proses kembali atau pemurnian diri ini pun, bisa dilakukan dalam tiga tahapan, yakni :

1. Pemurnian Diri (Purification) : Lewat kesenian, orang dibawa naik dari keindahan inderawi ke pengertian mendalam mengenai keindahan dan kebenaran yang mantap dan sejati.

2. Kontemplasi (Contemplation) : Dengan berfilsafat, orang akan mencapai pencerahan akal budi : Ia akan dapat mengenali dunia ide-ide. Dan akhirnya :

3. Penyatuan atau Peleburan (Extase) : Orang akan mencapai Penyatuan dengan "Yang Esa", yang melampaui segala pengetahuan. Tahap akhir ini, dicapai lewat "Kontemplasi" dan Askese" atau Laku Tapa (Misalnya : Menjalankan Pantangan, Puasa, Selibat) agar dapat melepaskan diri dari kekuatan pengaruh dunia materi. Menurut pengakuan Porfirius, murid Plotinos, bahwa ia pernah empat kali menyaksikan gurunya mengalami kondisi Ekstase tersebut.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

Mannequin Marionette?  

"Mannequin atau Peragawati, sering dipajang dan dipertontonkan. Ataukah sebuah simbolik dari "Marionette", boneka orang yang melulu melakukan apa yang disuruh lakukan oleh orang lain, jadi hanya sebagai alat saja dan tidak punya kemauan sendiri, orang yang dapat diperalat oleh orang lain dengan sesuka hati.

Ataukah hanya berada disebuah Pengaliran (Emanasi) dengan gerak menurun. Artinya, segala yang ada mengalir terus menerus dari kelimpahan "Yang Esa", namun itu sama sekali tidak mengurangi kesempurnaannya. Dianalogikan dengan sumber air yang meluap dan mengalirkan air sungai terus menerus tanpa ia sendiri bisa kekeringan. Atau : Ibarat matahari yang terus memancarkan cahaya, tanpa kehilangan hakikatnya sedikitpun.

Mungkinkah aku dan kamu adalah "Mannequin Marionette" ?

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

Mitos MP (Malam Pertama)  

Benarkah Malam Pertama (MP) selalu menjadi malam paling “menegangkan” bagi pengantin baru?

Tak jarang anggapan tentang MP yang dimiliki calon pengantin tergolong keliru, sehingga beredar mitos-mitos di kalangan masyarakat. Munculnya mitos ini, menurut dr. Nugroho Setiawan, Sp.And, androlog dari RS. Fatmawati Jakarta, disebabkan karena minimnya pengetahuan calon pengantin, terutama tentang seks. Berikut ini adalah mitos-mitos tentang malam pertama yang sering beredar:

1. Mitos: Selalu menyakitkan.
Pikiran ini biasanya menghantui kaum perempuan, karena ia sudah lebih dulu khawatir vaginanya tak mampu menampung penis yang besar akibat ereksi.
Fakta: Ini anggapan salah!
Hubungan seks yang pertama kali dilakukan, tak selalu menimbulkan rasa sakit bila yang bersangkutan sudah mempelajari seksualitas sebelum menikah. Rasa sakit biasanya terjadi karena respon seksual belum terjadi secara sempurna padanya. Vagina masih terlalu kencang, sehingga belum siap menerima penetrasi.
Ketika ada rangsangan, respon seksual akan muncul berupa ereksi pada pria, dan pada perempuan terjadi perlendiran serta pelunakan vagina. Bila vagina belum melunak tapi sudah dipenetrasi, akan timbul rasa sakit pada perempuan. Inilah yang menimbulkan rasa trauma. Selain itu, pemaksaan seperti ini bisa membuat mulut rahim pecah.

2. Mitos: Penentu Keberhasilan.
MP sering dianggap sebagai penentu keberhasilan dalam berhubungan seks selanjutnya. Ketika timbul kekecewaan, misalnya karena pengalaman buruk saat MP, biasanya memang memengaruhi perasaan saat hubungan seks berikutnya.
Pengalaman buruk ini antara lain, Ejakulasi Dini (ED) atau sakit yang dialami perempuan saat penetrasi. Bisa jadi, pengalaman ini akan kembali terbayang saat berhubungan seks berikutnya, sama halnya bila ternyata hubungan seks pertama itu berjalan menyenangkan.
Fakta: MP bukanlah penentu keberhasian dalam hubungan seks selanjutnya.

3. Mitos: ED selalu terjadi saat MP.
Fakta: ED tidak selalu terjadi saat MP
Menurut Nugroho, ED terjadi akibat gairah yang terlalu tinggi dan foreplay yang kurang. Padahal sebetulnya, gairah ini bisa dikendalikan. Bila pengetahuan seksualitas yang dimiliki suami tidak memadai, ED bisa saja terjadi. Ini wajar terjadi, dan bukan pertanda buruk.

4. Mitos: Sehebat adegan film biru.
Film biru banyak memberi kesan berhubungan seks yang indah, heboh, bisa penetrasi dengan foreplay singkat, atau bahkan tanpa foreplay, dan bisa penetrasi dalam waktu lama.
Fakta: Tidak selalu sehebat adegan film biru.
Belajar seks dari film biru bahkan tidak dianjurkan, karena adegan yang disuguhkan tidak runut. Itu bukan pembelajaran seks yang baik. Sebab, masing-masing pihak butuh ketenangan, belaian yang tidak terburu-buru, dan penyelesaian psikologi yang baik.
Apalagi, perempuan penuh dengan perasaan. Ada kalanya, sebelum berhubungan, sebagian perempuan ingin ngobrol dulu atau dibelai untuk merangsang dirinya. Perlu diketahui, respon seksual yang baik pada wanita harus lengkap, dan ini butuh waktu lama, yaitu sekitar 30 menit.

5. Mitos: Seks di film biru adalah ideal.
Fakta: Anggapan ini menyesatkan.
Sebab, adegan di film biru kebanyakan hanya rekaan saja. Apalagi, bila suami menganggap ukuran penis yang ideal adalah yang besar, seperti di film biru. Kebanyakan, film biru diperankan orang-orang Barat yang notabene bertubuh tinggi besar, sehingga ukuran penisnya pun lebih besar, dibanding orang Indonesia yang posturnya kecil.
Sebaiknya, sebelum menonton film biru, pengantin baru sudah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai seks. Sehingga, mereka lebih bijak menyikapi adegan yang disuguhkan, dan bisa memilah hal-hal yang baik.

6. Mitos: Penis besar, istri puas.
Tak sedikit suami yang merasa khawatir tidak bisa memuaskan istrinya karena memiliki penis kecil. Ia lalu menganggap, istrinya baru akan puas jika penis pasangannya berukuran besar.
Fakta: Bukan ukuran besar kecilnya penis yang bisa memuaskan pasangan.
Melainkan, kekerasan penis itu sendiri. Bila penis besar tetapi tidak bisa melakukan hubungan seks dengan baik, bukan tak mungkin justru ED terjadi.

7. Mitos: Selalu nikmat.
Sebelum menikah, banyak orang menganggap seks itu nikmat, sehingga membayangkan MP pasti akan dilewati dengan nikmat.
Fakta: Apesya, tak sedikit yang kecewa.
Keindahan yang dibayangkan tak terjadi karena mereka tak memahami seksualitas secara benar. Masyarakat Indonesia tergolong malas belajar secara otodidak, termasuk soal seks. Karena itulah, banyak pasangan yang frekuensi berhubungan intimnya makin lama makin berkurang.
Apalagi, bila suami egois karena hanya memikirkan kenikmatannya sendiri, tidak peduli perasaan pasangan. Sedangkan istri, karena merasa sakit tiap kali penetrasi, sering mencari alasan agar tidak perlu melayani suaminya.

8. Mitos: Darah perawan.
Artinya, istri dianggap masih perawan bila saat berhubungan seks pertama kali, mengeluarkan darah dari vagina. Bila tidak, dianggap sudah tak perawan.
Fakta: Mitos ini sangat menyesatkan!
Anggapan ini membuat banyak istri khawatir bila tidak mengeluarkan darah saat MP, dan bisa menimbulkan kecurigaan suami.
Padahal, ketika istri mendapatkan respon seksual yang sempurna, semua organ reproduksinya melentur. Sehingga, bukan tidak mungkin selaput dara (hymen) istri tetap utuh, bahkan sampai menjelang melahirkan.

9. Mitos: Tak puas = gagal.
Fakta: Idealnya, saat berhubungan seks kedua belah pihak bisa menikmati dirinya dan pasangannya.
Pada kenyataannya, justru lebih banyak pasangan yang gagal berhubungan seks saat MP akibat pengetahuan seksualitas yang minim. Umumnya, mereka menikmati hubungan seks yang baik justru setelah berhari-hari mencoba, yaitu 10-14 hari. Sebetulnya, hal ini tidak boleh terjadi. Tetapi, karena orang Indonesia jarang mau belajar soal seksualitas, situasi seperti ini akhirnya dianggap wajar.

10. Mitos: Menyobek selaput dara pertanda keberhasilan.
Fakta: Ini anggapan yang salah dan tidak saling berhubungan.
Belum tentu selaput dara bisa sobek saat MP. Menurut Nugroho, justru menyobek selaput dara saat MP merupakan tanda terjadinya kegagalan respon seksual pada istri. Artinya, sebetulnya istri belum terangsang sempurna saat penetrasi terjadi.

11. Mitos: Harus minum obat kuat
Fakta: Anggapan yang salah!
Obat-obatan pendukung kegiatan seksual tidak dianjurkan untuk dikonsumsi bila yang bersangkutan tidak memerlukannya. Jika saat MP suami sudah mengonsumsi obat ini, bisa jadi secara psikologis ia sebetulnya merasa tidak siap, atau tidak mampu melakukannya.

12. Mitos: Daging kambing meningkatkan gairah.
Fakta: Ini mitos yang sering tersiar di masyarakat!
Yang benar, bukan daging kambing yang membuat gairah seks meningkat, melainkan bumbu-bumbu yang berasal dari rempah-rempah yang menyertainya ketika daging kambing itu dimasak.

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

Hitung jumlah titik hitamnya  

31 Mar 2008

berapa jumlah titik hitamnya..hadiah utama adalah rumah 5 milyar!!!

Read More..
AddThis Social Bookmark Button

Design by Amanda @ Blogger Buster